Perdebatan soal game fisik PlayStation 5 (PS5) ternyata bukan cuma urusan gamer yang ingin mempertahankan koleksi disk mereka. Sebuah penelitian menemukan indikasi bahwa akun palsu ikut meramaikan protes di media sosial, membuat percakapan soal kebijakan Sony terlihat semakin besar.
Temuan ini menarik perhatian karena muncul di tengah perubahan industri game yang makin mengarah ke distribusi digital. Namun, apakah gelombang protes tersebut benar-benar mencerminkan suara komunitas PlayStation?
Akun Mencurigakan Ramaikan Perdebatan PS5
Kontroversi ini berkaitan dengan kabar penghentian produksi game fisik pada 2028. Rencana tersebut memicu penolakan dari pemain yang masih menyukai game berbentuk disk, baik untuk koleksi maupun karena ingin memiliki salinan fisik dari game yang mereka beli.

Sebagian gamer bahkan mengampanyekan aksi blackout pada akhir Agustus 2026. Mereka mengajak pengguna mengurangi aktivitas di ekosistem PlayStation sebagai bentuk protes terhadap arah kebijakan perusahaan.
Analisis dari perusahaan pemantau media sosial Cyabra menemukan hampir 1.000 profil yang diduga palsu ikut terlibat dalam percakapan tersebut. Akun-akun itu dilaporkan menghasilkan lebih dari satu juta tayangan dan lebih dari 100.000 kali pembagian konten.
Tagar #NoDiskNoBuy juga disebut mendapat dorongan dari aktivitas bot. Jika angka ini akurat, percakapan yang awalnya berangkat dari keluhan gamer berpotensi terlihat lebih masif akibat aktivitas akun tidak autentik.
Protes Gamer Asli Tetap Perlu Diperhitungkan
Meski begitu, bukan berarti semua kritik terhadap Sony bisa dianggap rekayasa. Pemain yang keberatan dengan pergeseran menuju game digital punya alasan tersendiri. Ada yang gemar mengoleksi edisi fisik, ada pula yang lebih nyaman membeli disk karena ingin menyimpan dan memainkan koleksinya dalam jangka panjang.
Beberapa unggahan dengan interaksi tinggi juga berasal dari akun pengguna asli. Jadi, persoalannya bukan sekadar menentukan apakah protes tersebut nyata atau palsu, melainkan memahami seberapa besar aktivitas akun mencurigakan memengaruhi persepsi publik.
Perlu dicatat, temuan mengenai bot dalam percakapan tertentu tidak otomatis membuktikan bahwa hampir setengah dari seluruh peserta protes merupakan akun palsu. Kesimpulan semacam itu membutuhkan data dan metode pengukuran yang jelas.
Baca juga: God of War Laufey Collector Box Rp2,7 Juta, Worth It?
Game Fisik PS5 Masih Punya Tempat?
Dari sudut pandang industri game, kontroversi ini memperlihatkan bahwa peralihan ke format digital belum tentu diterima semua pemain. Praktisnya membeli game secara digital memang menarik, tetapi kepemilikan disk masih punya nilai tersendiri bagi kolektor dan gamer yang menginginkan pilihan lebih fleksibel.
Bagi Sony, tantangannya bukan cuma soal distribusi game, tetapi juga bagaimana kebijakan perusahaan diterima oleh komunitasnya. Sementara itu, gamer sebaiknya tidak langsung menilai besarnya sebuah gerakan hanya dari jumlah unggahan atau ramainya tagar.
Pada akhirnya, masa depan game fisik PlayStation akan lebih jelas terlihat melalui kebijakan resmi, ketersediaan produk, dan perilaku pembelian pemain—bukan semata-mata angka viral di media sosial.